Home

Label

Rabu, 22 Februari 2012

Berbagi, "ruh" sukses kami (jilid 2)

Masih ingat dengan Mas Darno ? ya...Mas Darno yang menghipnosis aku dalam sekejap pada akhir pertemuanku sore hari ini. Mas Darno yang duduk diam sepanjang pertemuan di sudut ruangan, dengan mata yang terus menatap serius kepada para pembicara yang tampil di podium. Mas Darno juga yang dengan santun dan bersahaja menuliskan semua poin-poin penting -- paling tidak menurut dia--yang perlu diingat, dan menyimpulkannya dengan satu kata dahsyat : BERBAGI !! dan...ternyata Mas Darno juga yang duduk di kursi belakang mobil mewah warna hitam dengan sopir bersafari yang tegap dan cekatan.


Penasaran dengan Mas Darno, akhirnya aku hubungi sahabatku yang katanya teman SD-nya, dan benarlah dugaanku, Mas Darno bukan orang biasa yang datang ke seminar sukses. Sahabatku mengatakan, adalah Mas Darno yang memiliki 11 restoran dan kafe di sekitar Semarang, 21 optik di seluruh pulau jawa dan 32 Apotik di Jakarta, Bandung dan Surabaya, belum lagi butik batik khas pekalongan yang ada di Mal-mal besar Jakarta, Surabaya dan Medan....

Lalu, kenapa dia hanya memberikan nomor hp pamannya ? sahabatku terkekeh-kekeh ketika aku tanyakan itu...."Darno itu orangnya kalem dan ndak pernah berubah sejak aku kenal dulu, semua sopir dan manajernya dipanggilnya sebagai pamannya jika ternyata usianya lebih tua darinya, kalo yang masih muda dipanggilnya "dek" sebagai penggalan dari kata adik, akupun yang teman sekelasnya di SD, dipanggilnya dengan mas".....Oooh....


Sahabatku memang kenal baik dengan Mas Darno ini, sehingga ketika aku coba untuk menghubungi nomor hp "paman"nya, dijawab oleh penerima telepon :"oh iya Pak, sebentar saya sampaikan ke Mas Darno", dan ketika kutanya siapa dia, "saya sopirnya Pak..". lalu dia melanjutkan, "Mas Darno tidak mau dipanggil Bapak, beliau lebih senang dipanggil Mas oleh banyak orang, mohon maaf ya Pak, saya mau kasihkan hp dulu ke Mas Darno"


Pada waktu yang telah disepakati, akhirnya aku mampir ke kantor Mas Darno di Semarang, sayang pertemuannya hanya berlangsung singkat karena Mas Darno akan menengok salah satu "adik"-nya yang sakit keras di rumah sakit Muhammadiyah Pekalongan, tapi dengan sangat sopan dan terkesan tulus, Mas Darno mempersilahkan mampir ke Pekalongan, alamat lengkapnyapun sudah aku dapatkan.



Untuk kedua kalinya, aku bertemu dengan Mas Darno diluar seminar, ya kali ini di kantornya di Pekalongan. Kantor yang luas dan asri, tenang dan bersahaja. Kesibukan yang tinggi dari karyawan yang semuanya dipanggil "Dik" dan "Paman" nampak jelas dari lalu-lintas mereka di koridor dan di depan komputernya masing-masing.


Waktu menunjukkan pukul 08.46 menit, akhirnya Mas Darno muncul dengan senyum yang lebar, khas, dan tetap santun. Tidak mengenakan pakaian sebagaimana umumnya pemilik usaha besar, kali ini dia tampil mengenakan sarung dan berbaju "koko" putih. Oooh....ya rupanya baru selesai sholat Dhuha. dan pembicaraan akrabpun siap dimulai.



Ngobrol dengan Mas Darno ternyata membuat aku betah berlama-lama, dan tidak terasa rupanya kami telah ngobrol ngalor-ngidul lebih dari 2 jam.


Kalimat yang paling berkesan selama kami ngobrol adalah, ternyata kunci sukses Mas Darno dan keluarganya adalah karena kata ajaib seperti yang dia tuliskan ketika seminar tempo hari, yaitu BERBAGI. Dia mengatakan bahwa, kata ini begitu merasuki jiwa dan pikirannya, pada awalnya dia tidak tahu manfaat dari berbagi ini, yang dia tahu itu adalah nasehat dari orang tuanya bahwa berbagi itu akan membuat kita menjadi orang yang sebaik-baiknya berada di muka bumi, karena menjadi orang yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia di muka bumi.

Dan kenyataannya..."saya tidak pernah kekurangan dengan berbagi". Lantas, kalau Mas Darno sudah sukses, untuk apa waktu itu mengikuti seminar sukses di Bandung ? " untuk mengkonfirmasi saja Pak, apakah yang saya lakukan sudah menuju ke arah sukses atau belum". Lha...?!? kalo begitu Mas Darno belum merasa sukses ? sambil tersenyum dan menunduk, dia menjawab "rasanya belum Pak, saya hanya sukses dari segi materi, itupun menurut teman-teman saya, tapi saya pengen sukses dengan cara berbagi kesuksesan untuk orang lain, karena dengan kita mengantarkan orang lain sukses dengan pengertiannya masing-masing, sesungguhnya kita sudah sukses, dan jika kita ingin kaya materi, hati dan iman, maka satu-satunya jalan adalah membuat orang lain kaya dulu, baik materi, hati maupun nurani."


Subhanallah......Mas Darno, sudah menjadi inspirator dan motivasiku secara riil.


Mas Darno...Mas Darno, aku jadi bingung nih, sebenarnya yang jadi motivator itu aku apa kowe Mas.....???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar