Dalam sebuah seminar yang menguras emosi dan antusiasme peserta tentang kesuksesan, gegap gempita ruang seminar yang dihadiri tidak kurang dari 400an orang muda dan tua yang datang dengan wajah tertantang untuk bisa sukses, kita bisa melihat betapa mereka yang hadir memendam rasa penasaran untuk mengetahui, apa sih sesungguhnya kiat sukses jitu yang akan disampaikan para pembicara sukses ini ? mereka menyimpan rasa penasarannya bahkan sejak bangun tidur,dibawanya dalam kesabaran menuju tempat seminar yang tidak terlalu dekat dengan tempat tinggal mereka, dikemas rapat dalam kontainer yang tahan panas dan waterproof agar tidak basah oleh keringat yang mengucur melalui sela-sela pakaian terbaik yang mereka bisa kenakan pagi itu.
Matahari sudah naik sepenggalah, aura semangat dan antusiasme terasa merambati dinding-dinding beku ruang seminar yang dingin akibat setelan mesin air condition yang kelewat dingin. Suara musik menghentak riang makin memanasi suasana yang memang diciptakan untuk membangkitkan selera antusiasme. Tiba-tiba muncul anak muda yang semangat berteriak memekikkan salam. Beberapa orang secara reflek menjawab salam itu juga dengan semangat, beberapa yang lain masih belum mau menjawabnya, karena masih mencari dari mana sumber suara itu muncul, dan masih banyak juga yang bingung harus menjawab apa, karena anak muda ini, yang belakangan diketahui sebagai pembawa acara/mc, mengucapkan salamnya kelewat semangat (bahkan melebihi mc konser dangdut di lapangan bola kampungku)sehingga artikulasinya tidak jelas.
Melihat tanggapan peserta masih belum menggembirakannya, beberapa kali MC muda ini mengulangi teriakan salamnya, kali ini agak lebih jelas, mungkin dia sudah bisa menguasai nervous-nya sendiri.Maka mulailah "koor" jawaban salam itu menggema, makin keras dan makin kompak. Wajah sumringah nampak dari MC muda kita ini.
Lalu dia meneriakkan pertanyaan "klasik" untuk seminar sejenis ini...."siapa yang mau sukses ?"...."siapa yang mau sukses sekali ?"....."siapa yang mau sangat sukses sekali ?" sekitar 85% peserta mengangkat tangannya beberapa kali, mengikuti pertanyaan2 yang dikeluarkan oleh MC muda kita dengan semangat, seraya meneriakkan..."SAYA....!!!"
Maka acara demi acara yang sudah terjadwal terlaksana dengan baik. Singkat cerita semua pembicara menceritakan, tentu dengan gayanya masing-masing, kisah sukses dan menyampaikan motivasinya kepada peserta secara gemilang. Banyak peserta yang mulai "terbakar", dan merasa tidak sabaran ingin segera meraih mimpi mereka tentang sukses, ini terlihat dari wajah-wajah antusiasme mereka yang terpancar melalui sorotan matanya, melalui topik-topik pembicaraan yang mereka lakukan di sekitar mushola ketika break ISHOMA (Istirahat-Sholat-Makan).
Adalah Mas Darno, sosok seorang peserta yang sejak datang pagi hari memilih tempat duduk di pojok paling belakang sebelah kanan, dengan tenang menutup buku catatannya dengan membubuhi garis lingkaran tegas warna merah pada sebaris kata yang ditulisnya dengan hurup kalpital bergaris bawah warna hitam.
Tertarik dengan perilaku tenang Mas Darno yang ternyata berasal dari daerah Pekajangan-Pekalongan, aku mendekatinya untuk sekedar tahu, apa sih yang dibuat oleh Mas Darno di buku catatannya dan mungkin saja ada kesan-kesan menarik yang dilihat dari sudut pandangnya.
Ketika kami berbincang, nampak jelas kesederhanaan Mas Darno yang dengan antusias menyambut uluran tanganku untuk berjabata tangan dengannya, "Darno Pak, saya dari Pekajangan-Pekalongan". mendengar asal daerah Mas Darno ini, saya jadi teringat daerah tempat tinggal sahabatku dulu, maka aku tanyakan kepadanya, siapa tahu dia kenal, yah...hitung-hitung sebagai pembuka pembicaraan. Tak disangka-tak dinyana, ternyata Mas Darno adalah teman SD sahabatku, maka bisa dibayangkan, betapa cairnya perbincangan kami ketika itu, ini pertanda baik pikirku.
Dalam hitungan menit akhirnya aku tahu, ternyata Mas Darno mencatat nama-nama pembicara yang telah menyampaikan motivasi dan kisah suksesnya di depan, lengkap dengan poin-poin penting versinya tentang arti dan kiat sukses versi pembicara, dan yang menarik adalah kesimpulan yang dibuatnya terhadap semua poin pembicaraan adalah dibubuhkannya satu kata yang dibuatnya dengan huruf kapital tebal, bergaris bawah hitam dan dilingkari dengan garis warna merah, Kata itu adalah : BERBAGI !
Terkejut dan takjub, Mas Darno yang berpenampilan bersahaja ini, dengan batik khas Pekalongan yang harganya tidak terlalu mahal, senyumnya yang ramah dan bahasanya yang teratur sopan dengan kekentalan logat Jawa yang khas Pekalongan, tulisannya rapi dan jelas, telah berhasil menyimpulkan semua pembicaraan yang terjadi di kelas pagi hingga siang ini dengan jernih, bahkan dapat disimpulkan dengan cerdas menjadi satu kata :BERBAGI.
Perbincangan kamipun mengarah pada satu kata yang menarik perhatianku tadi. Ketika ditanyakan kenapa kesimpulannya hanya satu kata yaitu BERBAGI, dengan sopan dan diplomatis, Mas Darno menjawab, "itu yang saya ketahui dari kedua orangtuaku Pak". LUAR BIASA.....Mas Darno rupanya menyelaraskan antara pengetahuan dan pengalaman di kelas ini dengan kesahajaan dan kearifan orang tuanya. Dia menambahkan, bahwa tadi dia mendengar secara berulang kalimat-kalimat yang meluncur dari para pembicara, baik yang secara eksplisit maupun implisit mengatakan bahwa BERBAGI adalah kuncinya, apapun yang dapat dibagikan kepada orang lain, dan orang lain menjadi senang, maka itu adalah suatu kesuksesan.
Sederhana tapi powerful !
Menjelang akhir perbincangan kami, aku meminta nomor hp Mas Darno, dan apa jawabannya :"maap Pak, saya ndak punya, boleh saya kasih nomor hp pamanku ? beliau pasti sampaikan kalo ada pesan untuk saya". akhirnya kami sepakat untuk bertukar nomor hp-ku dengan nomor hp paman Mas Darno.....sungguh bersahaja orang ing pikirku.
Jam 4 sore, ketika semua peserta mulai meninggalkan lokasi seminar, Mas Darno turun dengan tenang, buku tipis catatannya dan pulpennya ditenteng dengan ringan di tangan kirinya. Rambutnya yang sudah mulai berubah warna nampak menambah kesahajaannya, kacamata bacanya sudah dilipat. Nampak jelas kalau Mas Darno ini orang yang rajin membersihkan diri, walaupun dengan pakaian yang sederhana, kebersihan tubuhnya dan kecerahan wajahnya memancar melebihi aura pakaiannya. Dan dengan sangat sopan, mendekatiku sambil mengulurkan tangan untuk salam perpisahan, "Pak, saya pamit, kalau bapak ndak keberatan nanti saya pengen nanya-nanya ke bapak ya...". Setelah berbasa-basi sebantar, akhirnya kami berpisah.
Tidak begitu lama, sebuah sedan mewah warna hitam meluncur tepat didepan lobi gedung seminar, dengan cekatan sopir bersafari turun dan membuka pintu belakang mobil itu, dan dalam sekejap seseorang yang aku kenal dari pakaiannya memasuki mobil itu, dan....weeeesss.....sedan mewah itu meluncur dengan mulus meninggalkan gedung seminar....Mas Darno dalam diam berada dalam mobil tersebut, terkesima aku melihat kejadian ini...... (next...Berbagi, "ruh" sukses kami. Jilid 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar